Senin, 19 Mei 2014

Android Kit Kat

Android 4.4 KitKat akhirnya resmi dirilis dan sudah bisa digunakan oleh ponsel Nexus 4 mulai hari ini. JerukNipis pada hari ini (26/11/13) telah berhasil meng-upgrade dan kini telah memakai sistem operasi yang namanya diambil dari merk coklat buatan Nestle tersebut di ponsel Nexus 4.
Secara tampilan, tim developer Android telah mengubah tampilan dan desain dari sistem operasi ini. Meski terbilang minor, tetapi perubahan ini membuat user interface menjadi lebih segar. Yang paling terlihat adalah perubahan warna pada indikator baterai dan juga sinyal WiFi. Sebelumnya di Android 4.3, kedua indikator tersebut berwarna biru dan kini berubah menjadi warna putih.
Google juga seolah ingin mengedepankan fungsi dari Google Now. Hal ini bisa dilihat dari perubahan yang terjadi pada bagian lock screen. Di bagian bawah Jerukers akan melihat sebuah tanda panah yang akan mengaktifkan fitur Google Now, apabila kita melakukan gerakan menyapu ke arah atas.
Selain itu, ada satu fungsi yang cukup menarik JerukNipis, yaitu fungsi Printing on the Go. Fungsi ini nantinya akan mengizinkan Jerukers untuk mencetak dokumen langsung dari ponsel kalian dengan menggunakan sambungan WiFi atau Bluetooth. Tentu saja fitur ini tak bisa digunakan oleh semua printer, karena Jerukers wajib meng­-install aplikasi khusus terlebih dahulu.

Senin, 28 April 2014

“Islam and Moeslim in American: Community Development Perspective”

Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta adakan kuliah umum dengan tema “Islam and Moeslim in American: Community Development Perspective”. Kegiatan ini diselenggarakan Senin, 28 April 2014 di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kuliah umum ini menghadirkan pembicara yang berasal dari Amerika yaitu Jaye Star (akademisi dan seorang mualaf di Amerika).
Kuliah umum dibuka oleh Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Dr. Waryono, M.Ag.. Menurut Waryono pemilihan tema sangatlah tepat karena stereotip yang berkembang pasca tragedy WTC tahun 2001 yang menelan ribuan korban orang Barat dan pelakunya merupakan organisasi atau orang Islam. Untuk itulah pada kesempatan kuliah umum ini diharapkan mahasiswa selain mendapatkan gambaran kehidupan sosial-keagamaan Muslim di Amerika yang hidup dalam bayang-bayang stereotip kekerasan. “Dengan kuliah umum ini semoga dapat membantu mahasiswa dalam melihat permasalahan sosial, ekonomi, politik, dan kehidupan beragama di Negeri Paman Sam tidak semata berdasarkan fanatisme (agama); tetapi juga dengan analisis keilmuan sosial-humaniora”, tambah Waryono.
Dalam kuliah umum ini, Jaye Star menyampaiakan, sekulerisme yang ada di Amerika bukan berarti masyarakat USA tidak beragama, melainkan hanya membatasi Pemerintah untuk tidak ikut campur tangan dalam urusan agama seseorang, karena agama adalah urusan setiap pribadi masing-masing individu. Masyarakat amerika adalah orang yang agamis sesui dengan agamanya masing-masing.
“ Islam di Amerika adalah minoritas, dan untuk menemukan masjid sangatlah susah karena di Amerika Masjid masih sangat jarang, bahkan untuk melaksanakan sholat 5 waktu sampai menggunakan sisi ruangan yang kecil, dihalaman atau ruang terbuka. Masjid di Amerikan dijadikan pusat pembelajaran komunitas bagi pemeluk Agama Islam seperti, diskusi, siraman rohani dan puncak kegiatan berada pada masa bulan ramadhon. Muslim yang ada di Amerika sangatlah variatif karena berasal dari berbagai negara dan berbagai mahzab. Seiring berkembangnya Islam di Amerika, terbentuk organisasi keislaman seperti, Islamic Society of North America (ISNA), Islamic Circle of North America dan Muslim Student Association (MSA). Organisasi ini selanjutnya menjadi wadah bagi masyarakat islam di Amerika untuk berdialog dengan negara terkait dengan kebijakan-kebijakan pemerintah”, tutur Jaye Star.
Dengan dilaksanakan kuliah umum ini, Ketua Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), M. Fajrul Munawir, M.Ag. berharap, mahasiswa dan alumni PMI Fakultas Dakwah dan Komunikasi dapat, membantu memperluas cakrawala pengetahuan dan bersaing di kancah global serta mengetahui keberadaan minoritas Muslim di Amerika. (Doni Tri W-Humas UIN Suka)

sumber : uin-suka.ac.id



Selasa, 22 April 2014

UIN Sunan Kalijaga

Berbicara tentang Yogyakarta sebagai kota pelajar, tidak mengherankan ribuan mahasiswa/mahasiswi jauh-jauh datang merantau untuk menimba ilmu di "Kota Gudheg" ini. kehidupan yang multikultural harmonis terlihat jelas di berbagai sudut kota sebagai bukti bahwa keberagaman latar belakang, pendidikan, lingkungan, dari Sabang sampai Merauke bukanlah menjadi halangan untuk menuntut ilmu bersama di kota budaya ini. banyak sekali kampus-kampus yang berada di kawasan Yogyakarta, salah satunya UIN Sunan Kalijaga, yang notabene sebagai kampus berbasis Islam. kampus yang dulunya dikenal sebagai IAIN ini sampai dengan sekarang UIN Sunan Kalijaga masih eksis dan konsisten menjaga pendidikan yang Islami berwawasan luas. UIN Sunan Kalijaga diuntungkan karena terletak di pusat kota tepatnya di Jalan Marsda Adisucipto yang mana mudah dijangkau dari mana saja karena strategis.

Kekuatan Media Indonesia

selama ini media mungkin mengerucutkan Indonesia dari segala sisi buruknya saja. ekspos media terhadap sisi negatif yang terus menerus membanjiri media-media di Indonesia secara intens dan berkelanjutan nampaknya sudah menjadi hal yang wajar, biasa saja, dan sudah lekat di setiap lini kehidupan kita. namun di luar itu, banyak sekali sisi positif dari Indonesia yang dapat kita banggakan. di luar sana, banyak sekali anak-anak berprestasi Indonesia yang turut mengharumkan nama negeri tercinta Indonesia di dunia Internasional. sayangnya, mereka tidak mendapat perhatian lebih karena dirasa pemberitaan tentang "kesemerawutan" yang terjadi di dalam negara sendiri lebih 'menjual'. memang pada dasarnya, kekuatan media sangatlah besar dalam mempengaruhi audiens atau masyarakat sehingga seolah-olah apa yang dipublikasikan oleh suatu media adalah hal yang mutlak kebenarannya.